Edisi 18-09-2019
Pertumbuhan Kredit Diprediksi Naik 11,7%


JAKARTA–Lembaga Penja min Simpanan (LPS) mempre diksi laju pertumbuhan kredit diperkirakan berpotensi mem baik sejalan dengan langkah pe longgaran pada kebijakan giro wajib minimum (GWM) dan penurunan suku bunga mo neter dalam dua bulan ter akhir.

Ruang ekspansi kredit masih cukup terbuka pada bank besar, sementara untuk bank menengah dan kecil cende rung terbatas akan bergantung pada per baikan laju pertumbuhan sisi DPK.

“Gap per tum buhan ber po tensi menyempit dan me ngu rangi tekanan risi ko seg men tasi likuiditas pada bebe ra pa ke lom pok bank,” ujar Pgs Di rek tur Grup Surveilans dan Sta bi li tas Sistem Keuang - an LPS Samsu Adi Nu groho di Ja karta kema rin. Tambahan ekspansi fiskal yang secara siklus lebih tinggi pada semester II/2019 diha - rap kan memberikan dampak po sitif pada pertumbuhan da - na pihak ketiga (DPK).

Sampai dengan akhir 2019 pertum - buh an kredit dan DPK di per - kirakan akan mencapai ma - sing-masing sebesar 11,7 % dan 7,4%. Ada pun tren suku bunga simpanan perbankan juga mulai me nun juk kan tren penurunan meres pons penu - runan BI 7 Day Repo Rate (BI7DRR) dan langkah pe long - garan yang ditempuh Bank Indonesia (BI).

“Meredanya ko m petisi pada bunga spesial rate memberikan ruang bagi per bankan untuk memper - baiki struk tur biaya dana,” ung - kap dia. Tren penurunan suku bu - nga deposito untuk semua te - nor dan kelompok bank diper - kirakan akan berlanjut secara gradual sebelum berlanjut pa - da penurunan suku bunga kre - dit.

Sementara itu, adanya pe - nu run an tingkat bunga pen ja - min an akan memperkuat dan mem per cepat proses penu run - an ting kat bunga simpanan ke le vel yang lebih rendah. Di sisi lain, ruang penu run - an lan jutan untuk BI7DRR dan kebi jakan mo neter yang ako - mo da tif cu kup terbuka hingga akhir tahun sejalan dengan me ning katnya risiko perlam - batan eko nomi serta proyeksi inflasi yang ren dah.

Apalagi, langkah The Fed dan bank sen - tral ne ga ra lain da lam me laku - kan pe long garan, risiko vola - tilitas di pasar ke uang an, risiko kinerja ne raca transaksi ber - jalan, ser ta res pons pelaku eko - nomi ter hadap pemangkasan BI7DRR akan menjadi faktor pertim bangan lain yang me - nentukan penu run an lanjutan suku bu nga mo ne ter.

“Sejalan dengan penu run - an BI7DRR dalam dua pe riode terakhir, arah suku bu nga antarbank (JIBOR) di se mua te nor berpeluang turun se cara gra dual, merespons pe nu - runan yang ditempuh BI dan kondisi likuiditas antar bank yang re latif stabil,” ung kap dia.

Direk tur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah memperkirakan laju pertum buh an kredit pada se me s ter II ini belum akan mem baik signifi kan, cenderung relatif stagnan, tapi akan sedikit le bih baik dari semester I. Pelonggaran moneter akan berdampak positif memberikan ruang yang lebih besar bagi bank menyalurkan kredit.

Di sisi lain, risiko kredit juga meningkat di tengah kondisi glo bal yang tidak pasti akibat pe rang dagang. “Kita tahu perekonomian nasional didomina si oleh sektor komoditas baik tam bang ataupun perkebunan,” katanya saat dihubungi ke ma rin. Eskalasi pe rang dagang yang menahan laju pertumbuh an ekonomi global ber imbas ke harga dan permintaan produk komodi tas.

Bank-bank masih akan me nahan penyaluran kre dit di sek tor yang terkait dengan ko moditas pertam bangan dan perkebunan. Sektor industri ma nufaktur juga akan terkena dampak tidak langsungnya. “Se hingga secara total per tum buhan kredit akan tertahan, wa laupun kondisi likuiditas nanti akan lebih longgar,” im buhnya.

kunthi fahmar sandy