Edisi 22-09-2019
Isyarat Enam Perupa


Medium lukisan banyak digunakan perupa sebagai sebuah bahasa isyarat atau cara untuk berkomunikasi dan menampilkan jati diri kepada penikmatnya. Pada saat ber sa maan, lukisan juga mewujud sebagai komit men diri dalam melihat dunia tanpa kata.

Pameran lukisan enam perupa berbakat Tanah Air bertajuk “Six Signs” yang digelar di Galeri Institut Francais Indonesia (IFI) Jakarta mencoba menghadirkan sebuah perpaduan karakteristik seni murni berisi gagasan sekaligus kegelisahan para pembuat karya akan berbagai peristiwa sosial di sekitarnya. Keenam perupa itu adalah Jay Briones De Gala, Dara Sinta, Novandi, Alief, Ireng Halimun, dan Wahyu Oesman. Mengamati karya keenam perupa pada pameran ini, tergambar dengan jelas di mana mereka menggunakan medium seni untuk menyalurkan kegelisahan masing-masing lewat goresan kuas di atas kanvas sebagai sebuah tanda, yang selanjutnya diterjemahkan seperti bahasa isyarat.

Salah satu perupa yang berpameran Ireng Halimun mengatakan, keenam tanda yang tertuang di atas kanvas adalah langkah penyeragaman karakteristik yang menampilkan cerminan asli dari jiwa para perupa yang berpameran. “Perpaduan karakteristik itu menginspirasi kami (keenam perupa) untuk mencanangkan judul pameran, “Six Signs”. Di sisi lain, judul pameran ini plesetan dari istilah indra keenam atau sixth sense ,” kata Ireng yang juga koordinator pameran. Ireng menyebutkan, sinyal atau tanda dalam pameran lukisan kali ini menyiratkan modal keunikan dan ego dari tiap seniman. Mereka juga mencari jati diri dari tiap karyanya sehingga menghasilkan karya unik. Hal itu diharapkan mampu menyedot perhatian khalayak saat menemukan kebaruan artistik dalam lukisan mereka.

“Diferensiasi menjadi aspek penting untuk dicapai agar karya seni lukis yang punya perbedaan muncul di tengah keriuhan dunia seni rupa di Indonesia,” tuturnya. Ireng Halimun sendiri mencoba menghadirkan dunia yang gelisah dalam karyanya. Kegelisahan tersebut dia tuangkan lewat cat akrilik di atas kanvas berukuran 99x146x3,5 cm. Lukisan yang memperlihatkan keta - jam an garis dan gradasi warna itu ber ju - dul “Masih Ada Asa”. Menurut Ireng, dirinya menikmati kegelisahan saat mengeksplorasi sensasi dari cipratan dan lelehan cat hingga menemukan sinyal berupa objek lukisan. Hasilnya, Ireng sering kali mengabaikan kaidah perspektif anatomi, proporsi, dan komposisi dalam melukis.

“Berkesenian bukanlah sekadar suatu pilihan, tetapi suatu kebutuhan. Karena sebagai kebutuhan, maka di dalam berkesenian saya mengedepankan afeksi (kecintaan) terhadap apa yang saya lakukan,” ujarnya. Perupa lainnya, Jay Briones De Gala, mengatakan bahwa lukisan dan pelukis tidak bisa dipisahkan karena nilai sejati dari karya seni berlandaskan jiwa dan perjuangan dari masing-masing seniman. Lewat interpretasi karya dunia miliknya, pelukis asal Filipina ini coba menghadirkan gaya pointilisme yang kental. Jay menjadikan titik sebagai kekuatan. Titik-titik itu bermesraan dalam mewujudkan komposisi dari objek lukisan.

Sementara materi subjeknya adalah kemanusiaan dan perdamaian dengan judul lukisan “United for Peace”. “Saya begitu bersemangat berkarya karena ibadah kepada Yang Maha Kuasa, dengan menjembatani kemanusiaan dan perdamaian,” katanya. Interpretasi dunia melukis bagi pelukis Alief berbeda lagi. Menurut dia, melukis adalah menyampaikan bagian dari olah jiwa dan olah rasa. Hasil dari perjalanan, pemikiran, dan perenungan, sekaligus ungkapan syukur kepada sang Pencipta. Dengan menguasai teknik menggambar bentuk dan model, Alief menuangkan gagasannya ke atas kanvas dengan kecenderungan surealistik. Alief tidak sekadar melakukan peniruan (mimesis) terhadap objek, tetapi memperkayanya dengan gagasan spiritual yang keluar dari kelaziman.

Seperti lukisan berjudul “Tasawuf” miliknya, yang memperlihatkan per pa - duan pengalaman dan perjalanan Alief dalam melihat dunia. Seekor kupukupu disertai kelopak bunga merah ter - gambar jelas dalam guratan cat akrilik di atas kanvas berukuran 95x95 cm. Karya dari tiga perupa lainnya, yang masing-masing diwakili tiga lukisan, juga menampilkan dunia berbeda. Namun, tiap lukisannya memperlihatkan benang merah, yaitu kesatuan perspektif atas dunia yang tertuang lewat karya dan tanpa kata. Perupa Dara Sinta mengusung tanda alam dengan observasinya yang dituangkan lewat teknik glasur pada setiap karyanya.

Dengan ketekunannya, ia garap setiap detail objek yang dilukis. Sebaliknya, perupa Wahyu Oesman memberi sinyal/tanda pada karyanya dengan sapuan mood global terhadap objek yang dilukisnya. Baginya, kesan impresif menjadi sinyal/tanda yang lebih penting ketimbang berkutat pada penajaman detailnya. Selanjutnya teknik renyetan dan penguasaan dalam pembuatan ornamen dan ragam hias, diramu begitu apik oleh perupa Novandi, ke dalam lukisannya yang memiliki kedalaman spiritual. Pengalaman pendidikan di bidang arsitektur sang perupa dijadikan acuan dalam menciptakan keseimbangan (balance ) antarelemen seni rupa di atas taferil sehingga melahirkan komposisi yang harmonis.

Direktur IFI Kedubes Prancis di Indonesia Stephane Dovert juga sepakat bahwa lukisan tak ubahnya bahasa isyarat dari seorang seniman dalam menampilkan atau mengekspresikan jati diri. “Mereka (6 perupa) ini menceritakan enam kisah, tentang perempuan dan laki-laki yang akan menghadirkan kepada kita sebuah dunia. Dunia yang mereka resapi, yang ingin mereka bagikan kepada masyarakat umum,” kata Dovert ketika membuka pameran ini.

Thomas manggalla