Edisi 22-09-2019
Jam Kerja Panjang, Efektifkah?


JAKARTA–Budaya kerja di berbagai belahan dunia sangat beragam. Begitu pun terkait jam kerja di perusahaan maupun di instansi lainnya. Di beberapa negara maju, jumlah jam kerja cenderung sedikit. Hal ini berbeda dengan di negaranegara berkembang yang ratarata di atas 40 jam per pekan.

Data perusahaan perbankan UBS dan Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menyebutkan, di negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS) para pekerja rata-rata bekerja 38,6 jam per pekan. AS dijadikan patokan pengukuran jam kerja per pekan karena negara Paman Sam dianggap salah satu yang paling produktif. Atas dasar inilah, dua lembaga ini merilis negara-negara dengan jumlah jam kerja paling panjang setiap pekannya. Di daftar pertama negara dengan jumlah jam kerja terpanjang adalah Kolombia. Negara di Amerika Selatan itu rata-rata jam kerjanya mencapai 47,7 jam per pekan. Kemudian, Turki (47 jam), Meksiko (45,1 jam), dan Kostarika (44,1 jam). (lihat info grafis).

Lalu, apakah lamanya jam kerja berimbas pada produktivitas karyawan di negara-negara tersebut? Ternyata tidak. UBS dan OECD menyatakan, jam kerja panjang tidak memiliki kaitan dengan produktivitas yang tinggi. Contohnya, Meksiko yang memiliki dengan rata-rata jam kerja 2.622 jam per tahun, ternyata hanya menghasilkan produk domestik bruto (PDB) USD18,8 per jam. Sementara Irlandia yang memiliki jam kerja 1.856 jam per tahun mampu meraup USD84 per jam. Memang ada banyak faktor yang memengaruhi produktivitas kerja. Dikutip Business Insider studi UBS dan OECD bersama beberapa perguruan tinggi menyebutkan, jam kerja selama 45 jam per pekan dianggap sebagai porsi yang ideal.

Namun, porsi ideal ini belum cukup mendukung produktivitas seseorang karena dipengaruhi efisiensi dan unsur kebahagiaan karyawan. Ini sejalan dengan studi Chartered Institute of Personnel and Development, yang menemukan bahwa satu dari empat karyawan di Inggris sedikitnya bekerja lembur selama 10 jam per pekan. Menurut studi itu, sebagian besar dari karyawan mengaku memegang terlalu banyak pekerjaan, namun tidak memiliki waktu yang cukup untuk menyelesaikannya. “Pemberi kerja masih beranggapan jam kerja panjang berhubungan dengan kinerja yang baik,” kata Profesor Gail Kinman, ahli psikologi kesehatan kerja dari Universitas Bedfordshire, dikutip The Guardian.

“Faktanya justru sebaliknya. Semakin lama orang bekerja, kinerja, konsentrasi, dan kreativitasnya justru menurun,” ujar Kinman. Isu ketenagakerjaan di zaman awal-awal revolusi industri dunia juga pernah menjadi perhatian pendiri Ford Motor Company, Henry Ford. Saat itu di era pertengahan 1920-an Ford mencoba menetapkan jam kerja baru menjadi lebih singkat, yakni selama delapan jam per hari dan lima hari per pekan untuk seluruh karyawannya. Kebijakan tersebut disambut baik organisasi buruh AS karena dianggap salah satu revolusi di bidang ketenagakerjaan. John Pencavel, dari Lembaga Penelitian Kebijakan Ekonomi Institut Stanford, dalam kajiannya mengatakan, pemangkasan jam kerja telah meningkatkan dan memperkuat produktivitas dibandingkan enam hari kerja. “Ide itu sudah ada sejak zaman dulu, tapi tidak populer dan banyak ditentang pemberi kerja,” terangnya.

ASEAN Rata-rata di Atas 40 Jam

Di negara-negara ASEAN, isu jam kerja karyawan juga menjadi perhatian tersendiri. Dalam sepekan terakhir pelaku usaha yang bergerak di bidang industri pertekstilan di Tanah Air mewacanakan penambahan jam kerja karyawan dari saat ini 40 jam pekan menjadi 45 hingga 48 jam per pekan. Namun, hal ini bertolak belakang dengan kebijakan di Vietnam yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi negara incaran investor luar negeri.

Di Vietnam, otoritas setempat justru akan mengurangi jam kerja karyawan dari 48 jam per pekan menjadi 44 per pekan. Menanggapi isu jam kerja, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Danang Girindrawardana menyatakan, lamanya jam kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap produktivitas kerja. Menurut dia, rata-rata 40 jam kerja per pekan tidak hanya diterapkan di Indonesia, tapi juga banyak dijalankan di luar negeri. Hanya saja, terkait urusan jam kerja lembur merupakan kebijakan perusahaan masing-masing. “Saya kira kalau jam kerja tidak berpengaruh besar terhadap produktivitas. Peningkatan produktivitas kerja diukur berdasarkan peningkatan keterampilan kerja,” ujar dia saat dihubungi KORAN SINDO di Jakarta kemarin.

Danang menambahkan, Apindo akan mendorong peningkatan pelatihan keterampilan secara intensif bisa dilakukan melalui lembaga pendidikan maupun perusahaan. Pasalnya, sebanyak 65% pekerja di industri padat karya tingkat pendidikannya rata-rata hanya setingkat SD dan SMP. “Untuk itu perlu skill terus ditingkatkan jika kaitannya dengan produktivitas kerja karena mayoritas atau 65% berada di padat karya dengan jenjang pendidikan masih rendah,” kata dia. Untuk tingkat tenaga ahli, perlu didorong meningkatkan keterampilan digitalisasi dalam rangka mengejar industri 4.0. “Pada level tenaga ahli pelatihan digitalisasi harus dikejar dalam rangka mendukung Revolusi Industri 4.0,” kata dia.

Dalam ulasan yang dikutip ASEAN Post, perkembangan teknologi yang diikuti hadirnya revolusi industri 4.0, mau tidak mau harus membentuk proses produksi yang lebih efisien dan produktif. Yang tak kalah penting adalah memberikan kebebasan kepada para pekerja untuk fokus pada kreativitas dan inovasi. Sistem otomatisasi dan teknologi baru juga diperkirakan menggantikan kebutuhan tenaga kerja manual. Ini sesuai dengan kajian dari perusahaan konsultan McKinsey & Co yang memperkirakan bahwa tren industri 4.0 dapat menciptakan 20 - 50 juta pekerjaan secara global pada tahun 2030. Dari jumlah pekerjaan tersebut, mayoritas akan datang dari bagian teknik, ilmu komputer, dan Teknologi Informasi (TI).

M shamil/ nanangwijayanto