Edisi 22-09-2019
Jangan Sekadar Mengandalkan Valuasi


JAKARTA–Banyak yang beranggapan bahwa dalam menghadapi tantangan ekonomi saat ini dunia usaha harus melakukan shifting ke digital. Apakah itu melakukan digitalisasi setiap lini dalam usahanya atau bahkan melahirkan perusahaan digital.

Namun melahirkan perusahaan digital tidak seindah yang dibayangkan. Euforia lahirnya perusahaan digital justru menjadi sebuah jebakan dalam berbisnis. Begitu pun hingga saat ini perusahaan berbasis digital belum secara jelas menye - butkan keuntungan usaha. Sejauh ini yang terdengar hanya nilai valuasi yang terus meningkat di telinga masyarakat luas. Artinya perusahaan yang shifting ke digital pun harus menghadapi tantangan yang besar untuk bisa bertahan. Apalagi di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu, seka - dar shifting ke digital tampaknya belum menjadi jawaban yang konkret.

Ekonom Indef Bhima Yudisthira kepada sindonews.com beberapa waktu lalu menjelaskan ekspansi bisnis digital tidak selamanya bisa berjalan mulus ketika justru ekonomi secara keseluruhan sedang dalam kondisi tertekan. Bhima juga menjelaskan, modal ventura asing yang terus-menerus menyuntik ecommerce juga memiliki batas. “Jadi ada limitnya juga. Misalnya Jepang masuk resesi, Eropa resesi, China slowdown. Pasti suntikan modal ventura ke Indonesia terpengaruh. Ini mungkin yang kurang diperhatikan, hanya melihat dari sisi valuasi, tapi profit belum tentu besar,” katanya Salah satu indikasi bahwa perusahaan digital juga menghadapi tantangan yang besar adalah langkah pengurangan karyawan yang dilakukan Bukalapak.

Sebagai perusahaan digital dengan label unicorn, langkah ini cukup mengejutkan. Banyak pihak berspekulasi, situasiecommerce di Tanah Air tengah mengalami masalah. Perusahaan dengan label unicorn adalah perusahaan dengan valuasi senilai USD 1 miliar (sekitar Rp14 triliun). Selain Bukalapak, di Indonesia ada tiga perusahaan dengan label unicorn, yaitu Tokopedia, Gojek, dan Traveloka. Chief Strategy Officer (CSO) Bukalapak Teddy Oetomo dalam keterangan resminya mengatakan langkah ini sebagai strategi bisnis jangka panjang sehingga dibutuhkan penataan lebih lanjut. Teddy mengatakan sejak berdiri sejak 9 tahun lalu, perkembangan teknologi terus berkembang pesat sehingga kebutuhan masyarakat semakin maju dan beragam.

Penataan diri di dalam organisasi juga harus dilakukan untuk mengikuti dinamika ini. “Oleh karena itu kami perlu melakukan penyelarasan secara internal untuk menerapkan strategi bisnis jangka panjang kami serta menentukan arah selanjutnya,” ujar Teddy di Jakarta, Selasa (10/9). Teddy mengklaim gross profit Bukalapak di pertengahan 2019 naik tiga kali bila dibandingkan dengan pertengahan 2018 dan pihaknya mengurangi setengah kerugian dari pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) selama 8 bulan terakhir ini.

“Kami ingin menjadi e-commerce unicorn pertama yang meraih keuntungan dan dengan pencapaian performa bisnis yang baik dan modal yang cukup, kami menargetkan untuk dapat mencapai breakeven, bahkan keuntungan dalam waktu dekat,” kata Teddy. Jika melihat pernyataan Teddy di atas, berarti selama 9 tahun berjalan Bukalapak belum membukukan keuntungan. Begitu juga dengan tiga unicorn di Indonesia. Deputi Bidang Infrastruktur Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Hari Santosa Sungkari mengaku e-commerce berhasil tumbuh hingga 94%. Perlahan tapi pasti perpindahan menuju digitalisasi sedang dilakukan berbagai sektor.

“Tidak bisa disamaratakan (keputusan Bukalapak melakukan efisiensi). Itu hanya kebijakan perusahaan sendiri, bukan karena alasan dari luar. Keputusan ini juga tidak akan berdampak secara keseluruhan,” tutur Hari kepada KORAN SINDO, Kamis (19/9). Namun pendapat di atas juga seolah menafikan kondisi eksternal. Bukankah dalam strategi manajemen, kondisi eksternal juga memengaruhi strategi sebuah perusahaan? Bahkan Teddy dalam pernyataannya juga mengungkapkan bahwa ada dinamika eksternal yang juga memengaruhi keputusan untuk melakukan efisiensi. Hari menambahkan, para unicorn sudah mengarahkan bisnis pada orientasi keuntungan dan bukan seperti saat baru berdiri. Investor kini mulai melihat keuntungan dari startup yang mereka modali.

“Efisiensi dari sebuah bisnis unit yang melihat profit dan risiko bagus. Ada salah orientasi yang kemudian mereka perbaiki,” tambahnya. Ketua Indonesian ECommerce Association (idEa) Ignatius Untung mengaku percaya diri perkembangan ecommerce akan terus berkembang pesat hingga tahun-tahun ke depan. Untuk meyakini daya beli, masyarakat tidak akan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap aktivitas di e-commerce.Sebab ritel e-commerce masih dibawah 10%. Untung menyarankan kepada pelaku ecommerce untuk tidak bergantung pada potongan harga memanjakan pengguna.

“Jika dilakukan dalam jangka pendek tidak masalah. Sebaiknya mereka menaikan brand,pelayanan sehingga konsumen puas. Pilihan produk diperbanyak, display harus lebih bagus,” tandas Untung.

Ananda nararya/ sindonews