Edisi 22-09-2019
Pemerintah Garap Ekowisata di Kawasan Gunung Halimun-Salak


SUKABUMI–Pemerintah serius menggarap potensi ekowisata di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun dan Salak (TNGHS) . Hal ini dilakukan dengan mengembangkan 17 objek wisata yang dinilai memiliki potensi ekowisata.

Objek-objek wisata di TNGHS itu terdiri atas 10 objek wisata berstatus sudah berjalan pengembangan dan pengelolaannya serta 7 objek wisata yang kini sedang dilirik untuk dikembangkan. “Satu di antara yang sudah kita kembangkan dengan konsep ekowisata itu adalah di kawasan Cikaniki,” ujar Koko Komarudin, salah seorang pengendali ekosistem hutan (PEH) TNGHS Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), saat diskusi bertema “Menggali Potensi Ekowisata TNGHS” dengan wartawan di Sukabumi, Jawa Barat, kemarin.

Koko menuturkan, selain melakukan manajemen konservasi sebagai tugas utama, saat ini pihaknya juga tengah fokus menggenjot potensi ekowisata di kawasan TN Halimun dan Salak. Pengelolaan ekowisata tersebut akan melibatkan masyarakat sekitar. “Dua fungsi ini yang harus kita seimbangkan, bukan hanya wisata, tetapi juga partisipasi masyarakat,” ujar Koko. Wardi Septiana, petugas PEH Taman Nasional Halimun dan Salak lainnya, menambahkan, satu di antara ekowisata yang saat ini tengah dikembangkan intensif adalah ekowisata kawasan Cikaniki yang difokuskan pada wisata penelitian.

“Dalam konsep ini kita tidak hanya semata-mata memberi pilihan wisata pemandangan, tetapi juga edukasi mengenai ekosistem tumbuhan maupun binatang,” ujarnya. Awalnya, kata Wardi, pengembangan ekowisata baru sebatas dikembangkan di Taman Nasional Gunung Halimun. Namun, sejak 2003 pengembangannya meluas ke Taman Nasional Gunung Salak hingga saat ini. Sejumlah objek ekowisata Gunung Halimun yang memiliki potensi bagus adalah penangkaran elang Jawa di Loji dan ekowisata Sukamantri.

Menurut data, kawasan Taman Nasional Gunung Halimun dan Salak saat ini memiliki lebih dari 264 spesies burung dan lebih dari 700 tumbuh-tumbuhan. Kawasan Taman Nasional Halimun dan Salak pada data 2017 disebutkan memiliki luas 87.699 ha yang berstatus sebagai taman nasional dan seluas 105.072 ha berstatus sebagai kawasan hutan lindung dan produksi.

Wahyono