Edisi 22-09-2019
Saatnya Organisasi Anda Berhijrah Jadi Produsen Konten


Belum produksi, film The Santri menuai kritik pedas. Hal itu diduga “setingan”. Dicek di Facebook dan WhatsApp, kebanyakan akun asli, nyatanya dugaan itu tak sepenuhnya benar.

PB NU sudah biasa dikritik dari luar, dalam, dan berbagai penjuru. Masalah Islam Nusantara, istilah kafir, ulah oknum Banser, dan banyak lagi. Tak heran bila kritikan terhadap film garapan NU Channel itu tak membuat PB NU pusing tujuh keliling. Harus diapresiasi, PB NU sudah hijrah, dari sekadar penonton film jadi produsen film. Jika isi filmnya ada pesan sponsor, wajar saja. Seperti mencari belut di kolam renang, sesukar itulah mencari sponsor yang tanpa kepentingan. Di tengah gunjingan, PB NU terus berkarya. Kepada anggota dan pengurus organisasi lain, mulailah hijrah atau move on dari sekadar komentator film menjadi produsen. Tidak harus film layar lebar, video dengan HP dulu bisa.

Mulailah dengan membentuk tim media sosial (medsos) di organisasi Anda. Membuat tim medsos itu mudah. Tim medsos masukkan ke dalam struktur organisasi dan dibuatkan surat keputusan (SK) -nya. Menunda pembentukan tim medsos sama halnya dengan mengabaikan potensi besar yang dimiliki organisasi (h. 8). Inspirasi ini saya baca dari buku Seni Mengelola Tim Media Sosial; 200 Tips Ampuh Meningkatkan Performa Organisasi di Internet dengan Anggaran Terbatas . Buku ini ditulis oleh Hariqo Wibawa Satria, seorang yang berpengalaman melakukan pengorganisasian di darat dan medsos. Buku ini menjelaskan, setiap organisasi di Indonesia mampu menjadi produsen konten.

Sayangnya, banyak organisasi enggan memasukkan tim medsos ke dalam struktur organisasinya. Masih banyak di antara mereka yang masih “betah” dengan struktur lama. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dibentuk pada 19 Mei 2017. Sementara internet mulai digunakan di Amerika pada 1969 dan masuk Indonesia pada 1990-an. Medsos masuk Indonesia sekitar 1998. Perlu waktu hampir 27 tahun bagi Indonesia untuk menye suai - kan diri. Wajar bila pema ham - an bahwa medsos banyak manfaatnya sudah terbangun, tapi belum dengan tim medsos. Manfaat buku ini, seperti yang tertera di cover belakang, satu di antaranya agar setiap organisasi membentuk tim medsos sehingga jumlah produsen konten bertambah.

Coba hitung jumlah organisasi di Indonesia. Jika seluruhnya produsen, maka Indonesia akan memengaruhi dunia dengan konten. Sumber konten organisasi dari mana? Organisasi pasti punya kegiatan. Modal utama dalam memproduksi konten adalah kegiatan rutin. Dari sini lahir prinsip pertama, yaitu kegiatan adalah konten (h. 93). Di halaman 211 buku ini juga ada bagan untuk memenuhi kebutuhan tim pengelolaan tim medsos dengan cara menggunakan modal organisasi. Buku ini memaparkan tahapan pembentukan tim medsos, rekrutmen, pembagian tugas, dan berbagai model tim medsos.

Sebanyak 126 konten dan aktivitas pelibatan publik, pengelolaan medsos tokoh, kepemimpinan digital, penyelesaian krisis komunikasi, pengelolaan grup percakapan online , anggaran tim medsos, penyusunan strategi komunikasi, kalender medsos, 60 catatan terkait literasi, dan banyak tips lain yang bisa diterapkan untuk menghadirkan Anda dan organisasi Anda di HP setiap orang dengan lebih bermakna. Sebagai satu-satunya yang membahas tim medsos, buku ini cukup komplit. Isi buku ini bisa langsung dipraktikkan dalam tim medsos berbagai organisasi. Buku ini juga didukung dengan studi kasus berdasarkan pengalaman penulis selama bertahuntahun.

Karena itu, buku ini penting dan perlu dibaca para penggiat kehumasan, pengurus, dan anggota organisasi kemasyarakatan, pemerintah, bisnis, kampus, NGO, sekolah, komunitas, perusahaan, dan berbagai organisasi nonprofit lainnya. Buku ini lumayan mahal, Rp165.000. Setara dengan lima gelas kopi di kafe. Jika buku ini menginspirasi organisasi Anda untuk hijrah, dari sekadar down loader jadi uploader , dari penikmat konten menjadi produsen konten, harga segitu sangat murah. Akhirnya, se - perti ditulis di cover belakang bu ku ini, “Usia kita pendek, usia organisasi dan konten yang dilahirkannya panjang”. Selamat menikmati lima gelas kopi.

M samsul arifin
mahasiswa magister ilmu komunikasi umj, alumni ponpes darul ulum banyuanyar pamekasan