Edisi 22-09-2019
Strategi Promosi yang Paling Jitu adalah TIDAK Berpromosi


Kolom kali ini sekali lagi saya ingin berbagi jurus pemasaran daerah (marketing places) yang dijalankan oleh Banyuwangi dengan great marketer-nya Pak Azwar Anas yang tak lain adalah bupati kabupaten paling timur di Pulau Jawa itu.

Untuk memasarkan, Pak Anas tak banyak menghamburhamburkan dana untuk melakukan promosi di TV, radio, atau media luar ruang. Bukan apa-apa, karena anggaran pemkab memang terbatas untuk bisa memasang iklan di TV nasional misalnya, yang supermahal. Di samping itu, memang Pak Anas berprinsip bahwa cara paling ampuh memasarkan Banyuwangi bukanlah melalui media berbayar seperti TV atau billboard, tapi dengan menjadikan siapa pun yang datang ke Banyuwangi (wisatawan, pengusaha, investor, pemilik event, dan lainnya) sebagai marketer. Ya, karena Pak Anas berprinsip bahwa: The best marketer is our customer.

Argumentasinya sederhana: “Semakin kita sendiri yang mempromosikan diri kita, semakin orang lain tak percaya. Sebaliknya, semakin orang lain yang mempromosikan diri kita, semakin kita tepercaya.” Kalau kita menggunakan media berbayar, kita membayar media itu untuk menyampaikan kehebatankehebatan kita ke audiens. Kita akan menggunakan media tersebut habis-habisan untuk mempromosikan diri. Namun, justru di situ masalahnya: Semakin kita habis-habisan mempromosikan diri, semakin konsumen tak percaya dan kian antipati.

Karena itu, akhirnya Pak Anas sampai pada kesimpulan bahwa: “Strategi promosi yang paling jitu adalah TIDAK berpromosi.” Pertanyaannya, kalau pemkab tidak mempromosikan Banyuwangi ke target market, lalu siapa yang berperan mempromosikannya? Yang mempromosikan Banyuwangi adalah setiap wisatawan, pengusaha, investor, dan siapa pun yang berkunjung dan beraktivitas di Banyuwangi.

“Merekalah endorser-endorserbagi Banyuwangi,” ujar Pak Anas. Pak Anas berprinsip bahwa setiap orang yang datang ke Banyuwangi haruslah menyebarkan kabar baik mengenai Banyuwangi kepada orang lain.

?Setelah mereka ke Pulau Merah, maka mereka harus menceritakan keindahan cakrawala Pulau Merah di saat sunset ke anggota keluarga atau kerabat.

?Setelah usai berburu kuliner Nasi Tempong Mbok Wah atau Rujak Soto Mbok Bretkhas Banyuwangi, mereka harus mengabarkannya ke para sejawat di kantor atau teman-teman SMA saat reunian.

?Setelah mereka berjalan selama lebih dari 2 jam menaiki Kawah Ijen dan akhirnya capeknya terbayar lunas oleh keindahan Blue Fire Kawah Ijen, mereka akan membagi pengalamannya ke teman- teman komunitas atau barangkali partner bisnis. Itu sebabnya Pak Anas selalu menyervis habis-habisan siapa pun yang datang ke Banyuwangi karena merekalah yang akan menyebarkan kabar baik ke berbagai pihak di luar Banyuwangi. Mereka diperlakukan sebagai tamu. Namanya tamu, mereka diperlakukan secara istimewa. Mereka dibikin betah di Banyuwangi. Dan, melalui pelayanan terbaik tersebut mereka akan bercerita ke orang lain saat meninggalkan Banyuwangi. Pak Anas punya prinsip: “Satisfied customer is the best source of advertisement.”

Oleh Pak Anas, setiap menteri, gubernur, bupati, investor, penyelenggara event, tokoh masyarakat, selebritas, seniman, pengusaha, pemimpin komunitas, ataupun wisatawan yang datang ke Banyuwangi selalu diservis habis-habisan. Tujuannya cuma satu: agar mereka terkesan dan kemudian menceritakan ke orang lain. Bagi Pak Bupati, gethok-tular yang mereka lakukan adalah kekuatan marketingyang tak ada tandingannya. Saya jadi teringat temuan riset yang diungkapkan Prof Jonah Berger, pakar word of mouthdan penulis buku fenomenal Contagious (2013). Dia bilang bahwa gethok-tular atau pemasaran dari mulut ke mulut memiliki efektivitas hingga 30 kali lipat dibandingkan teknik pemasaran konvensional seperti iklan.

Sang Profesor ia menyimpulkan bahwa sekitar 50% dari keseluruhan keputusan pembelian adalah melalui pemasaran dari mulut ke mulut, bukan karena iklan. Maka betul kata Pak Bupati Anas: “Strategi promosi yang paling jitu adalah TIDAK berpromosi”.

YUSWOHADY
Managing Partner Inventure www.yuswohady.com @yuswohady