Edisi 22-09-2019
Tai Minyak, Penganan yang Tengah Booming di Minahasa


Produk rumahan satu ini memang unik. Namanya saja sudah terdengar tak biasa, malah terkesan aneh dan nyeleneh. Apa sebenarnya itu tai minyak? Penganan ini merupakan ampas kelapa yang diolah dari endapan sisa membuat minyak goreng.

Bagi kalangan yang hidup di kampung atau desadesa, tentu ini bukanlah barang baru. Tapi, namanya itu, bikin penasaran, apalagi rasanya. Tai minyak. Begitulah masyarakat Manado kebanyakan menyebutnya. Penganan ini dikenal juga dengan sebutan blondo, klendo, atau galendo. Rasanya enak, gurih, dan nikmat jika dicampur sambal sebagai pelengkap makan gorengan, ubi rebus, atau ikan bakar yang kini banyak tersedia di rumah-rumah makan. “Ini produk saya yang lagi booming, yaitu tai minyak manis,” kata Mareska Magdalena Langoy, salah satu pengusaha yang memproduksi tai minyak di Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara.

Menurut Mareska, tai minyak sangat pas jika disajikan sebagai sambal untuk gorengan ubi, pisang rebus, pisang bakar, bahkan ikan bakar. Membuatnya tidaklah sulit dan cukup sederhana. Mareska menjelaskan, kalau kita ingin membuat dalam skala kecil, pertama-tama siapkan saja 750 ml air dari satu butir kelapa. Kemudian masak santannya sambil diadukaduk hingga air menguap dan tinggal minyaknya. Jadilah itu minyak goreng yang biasa dipakai untuk memasak. Nah, selain minyak goreng yang dihasilkan, ada endapan sisa yang disebut tai minyak dan kini peminatnya sedang membludak.

“Ini juga salah satu produk asli khas Sulawesi Utara yang mulai digemari. Makanan ini sudah langka. Kelebihannya, tai minyak bisa disimpan karena tahan lama,” ujarnya. Kelebihan lain, tai minyak yang diproduksi Mareska ternyata memiliki dua rasa: manis dan asam. Pemesannya saat ini sedang lumayan tinggi, tak melulu berasal dari Kota Manado, Kabupaten Kotamobagu, Kota Bitung, atau Minahasa, tapi juga dari daerah lain di Nusantara. “Distribusi tai minyak asam telah sampai ke Papua, sedangkan tai minyak manis sudah terbang hingga Jakarta dan Kalimantan. Meski yang pesan kebanyakan juga orang Manado yang tinggal di rantau, tapi masyarakat lain sudah banyak yang mengenal,” tuturnya.

Dengan membawa nama usaha Tai Minyak Manis’O, Mareska memerlukan sedikitnya 300 kg kelapa per hari untuk dapat menghasilkan minyak goreng kurang lebih 30 liter dan tai minyak 10 kg. “Kami menjualnya Rp20.000 per kilogram. Bagi yang pesan dari seputaran Manado bisa dikirim dengan taksi gelap. Pemesan dari luar daerah akan dikirimi lewat jasa pengiriman,” ujarnya. Rencana Mareska yang baru, akan membuat tai minyak dalam kemasan yang menarik sehingga bisa masuk dan dijual di toko sebagai oleh-oleh khas Sulawesi Utara. “Karena rasanya manis, menggugah selera, wangi, dan ditaksir banyak orang, maka kami kasih nama Tai Minyak Manis’O,” katanya berpromosi.

Seperti kita tahu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara sudah berencana menjadikan tai minyak atau ampas minyak kelapa yang biasa dihidangkan di rumah makan khusus ikan bakar ini sebagai buah tangan khas Sulawesi Utara. Sebagai daerah yang memiliki komoditas unggulan di sektor perkebunan, khususnya kelapa, Gubernur Olly Dondokambey ingin mengembangkan potensi yang ada untuk kemajuan daerahnya. Olly menjelaskan, sisa-sisa dari pembuatan minyak kelapa murni bisa dijadikan buah tangan bagi para wisatawan yang melancong ke daerah Nyiur Melambai.

“Kita akan buat minyak kelapa ini menjadi oleh-oleh bagi wisatawan yang datang. Bahkan bukan hanya minyak kelapa yang akan jadi oleh-oleh, tai minyaknya pun bisa dibawa,” kata Gubernur kepada sejumlah wartawan dalam beberapa kesempatan.

Cahya sumirat