Edisi 22-09-2019
Anomali Perumusan Kebahagiaan


Selain keadilan, kebahagiaan adalah hal imaterial yang takkan selesai diburu manusia satu penjuru dunia. Ragam seminar, aneka jurus jitu merumuskan kebahagiaan, banyak judul buku juga telah membahasnya, dan terutama yang digemari manusia pemuja angka adalah pe-ranking-an kebahagiaan tiap negara di seluruh dunia.

Dan, salah satu negara di urutan pertama adalah Finlandia. Seolah-olah hal abstrak itu dapat dikuantifikasi dengan angka dan memberi dampak langsung kepada negara yang kebetulan tak berada di peringkat atas. Finlandia sebuah negara kutub di kawasan Nordik, yang bila dipikir tentulah lebih nyaman tinggal di kawasan yang lebih hangat dan tropis. Dalam bahasa penulis disebut, musim dingin panjang ketika suhu jatuh dan hari-hari gelap, diiringi nuansa sedih yang sepertinya dimiliki tempat-tempat di Utara–suasana murung yang sering kali digambarkan dalam karya sastra dan televisi bergenre noir mengenai kawasan Nordik (h. 19) Bagaimana mungkin negara dengan kondisi alam sedemikian ekstrem mampu menduduki ranking pertama sebagai negara paling bahagia?

Apakah alam yang menyusahkan justru membuat orang-orang Finlandia tertantang dan gigih dalam kehidupan? Katja Pantzar, penulis yang sekaligus seorang jurnalis, merasa tertantang untuk mencari alasan di balik kebahagiaan orangorang Finlandia. Pertama kali pindah dari Vancouver ke Helsinki, Pantzar merasa bahwa keseharian orang-orang Finlandia ini sungguh aneh. Lebih menyukai bersepeda, jalan kaki dalam keseharian. Lebih suka makan sayur dan menghindari fastfood , makan bersama di kantin kantor, dan memiliki taman-taman yang bisa ditanami sayur buah. Sangat berbeda dengan Vancouver maupun London, dua kota yang pernah Pantzar tinggali.

Dalam kekaguman itulah, Pantzar menemukan sebuah terma yang hanya ada di Finlandia, sisu. Semacam kepercayaan yang diimani, dilaksanakan, dan kemudian membangkitkan semangat positif dan berimbas pada kebahagiaan. Sisu menjadi bagian dari motto atau slogan tidak resmi Finlandia: “Sisu , sauna, dan Sibelius”. Sauna sebab kita akan dengan mudah menemukan sauna di Finlandia. Ditaksir ada sekitar 3,3 juta sauna untuk 5,5 juta penduduk Finlandia. Sibelius yang dimaksud adalah Jean Sibelius (1865-1957), seorang komponis paling terkenal dari Finlandia. Salah satu kegigihannya ialah pernah menggubah sebuah lagu perlawan an yang sempat dilarang oleh pemerintahan Rusia hingga 1917.

Dan, sisu, sebuah kata ajaib yang ditemukan Pantzar setelah berinteraksi dan mengamati langsung kebiasaan orang Finlandia. Sisu terlalu abstrak untuk sekadar dijabarkan dengan satu atau dua kalimat. Pantzar semula mengartikan sisu sebagai cara pandang hidup yang tangguh, orang-orang aktif yang berkegiatan di segala cuaca, dan bersemangat mengandalkan tangan sendiri alias do-it-yourself (DIY). Aktif bergerak menjadi salah satu dasar keseimbangan sisu yang menjadi resep bahagia orang Finlandia. Bersepeda atau jalan kaki untuk berkegiatan sehari-hari, berenang, memancing di alam, berkemah, dan berenang di laut Nordik saat musim dingin. Kegiatan alam ini diyakini memberi keseimbangan manusia Finlandia.

“Bagi saya, berada di luar ruang sangat penting bagi kesehatan jiwa dan fisik. Sepanjang saya tetap aktif secara fisik, entah dengan main ski di musim dingin, berenang, ikut kelas olahraga, atau bersepeda ke mana-mana, saya merasa jauh lebih baik, lebih sehat, dan lebih kuat.” (h. 23) Sisu juga diartikan se bagai urusan pe rut. Maka, dalam buku ini juga di be - dah bagaimana orangorang Finlandia menem - patkan makanan. Orang-orang Fin landia meyakini alam menya ji kan makanan dan itu jauh lebih seimbang dari kemasan. Maka kita akan dapat menemukan banyak sekali petak kebun milik pribadi yang ditanami sayur dan buah.

Dalam catatan Pantzar, petakpetak kebun pertama di Finlandia mulai muncul pada awal 1900-an, sebuah tradisi kuno yang dirawat hingga ini. Ernest Hemingway pernah dengan tegas mengatakan kebahagiaan itu tidak mendatangi kita, melainkan kita yang harus mendatanginya (baca: menciptakannya). Buku ini mengupas bagaimana orang-orang Finlandia berkerabat dengan alam, menciptakan kebahagiaan dalam skala mereka. Alam adalah saka guru dunia, dan manusia elemen kecil dari ekosistem itu seharusnya menyatu dengan alam. Sebagaimana dicontohkan orang-orang Finlandia. Alam yang keras juga mengajarkan orang-orang Finlandia untuk tak berhenti menyerah. Rintangan dan kondisi alam yang buruk justru membuat mereka terus berusaha melampaui limit maksimal manusia normal.

Mana ada orang berenang di malam hari, ketika lautan sedang beku musim dingin? Hanya ada di Finlandia. Dan kebiasaan ini membuat kegigihan melejit dan hidup semakin bergairah. Haruki Murakami dalam The Wind-up Bird Chronicle , kalau umur manusia tidak terbatas, masihkah kita peduli pada kehidupan dan mencari kebahagiaan? Benar, karena usia manusia definite , prinsip sisu dan prinsip hidup dari beragam belahan dunia menjadi penting dikemukakan ke publik. Namun, buku ini akan menjadi sekadar paparan cara orang lain bahagia. Sisu dan aktif berkegiatan di alam adalah satu cara bahagia orang Finlandia.

Yang bisa dipastikan tidak akan sesuai dengan negara kita. Boro-boro berenang di sungai atau bersepeda saat berangkat ke kantor, petak pedestrian saja kerap tergusur oleh pedagang kaki lima. Penulis memerhatikan hal itu dan meyakini bahwa kebahagiaan adalah hal universal, namun bereksponen individual. Tiap orang punya cara dan elemen yang membuat bahagia setiap orang. Pantzar dengan arif menutup buku ini dengan menemukan sisu-mu. Setiap orang selepas membaca ini, harus menentukan cara bahagia masing-masing. Mungkin cara Pantzar dan orang-orang Finlandia akan cocok, mungkin juga tidak sesuai.

Kuncinya adalah tidak pernah berhenti menemukan hal yang membuat setiap pribadi kita bahagia. Indonesia sebagai bangsa dan komunitas tentu jauh berbeda dengan Finlandia. Baik dari segi alam, sosial, budaya, maupun ekonomi. Perbedaan ini harusnya membuat pembaca Indonesia menyerap buku ini secara arif. Kita memiliki banyak sekali terma, istilah, atau kebiasaan khas Indonesia yang jauh lebih pas untuk dijadikan rumusan kebahagiaan. Sisu adalah kasus dan contoh lain. Tugas kita terus mencari, merumuskan, dan mengabarkan ke khalayak. Sebab, kebahagiaan masih tetap hal abstrak yang sulit dirumuskan.

Khoimatun Nikmah
mahasiswa universitas semarang