Edisi 22-09-2019
Dwiki Dharmawan Tampil di Festival Tertua Afrika Selatan


Musisi jazz Tanah Air Dwiki Dharmawan akan tampil perdana di ajang festival musik tahunan Standard Bank Joy Of Jazz yang digelar di Sandton Convention Center, Johannesburg, Afrika Selatan (Afsel), pada Kamis-Sabtu (26-28/9).

Kehadiran Dwiki Dharmawan pada event ini berkat dukungan dan kerja sama dengan Kedutaan Besar Indonesia di Afsel. Melalui keterlibatan Festival Jazz tertua di Afrika Selatan yang tahun ini mengangkat tema “Live the Music-Jazz Unleashed”, Dwiki ingin menebarkan budaya tradisional khas Indonesia lewat pemilihan lagu-lagu bernuansa etnik yang akan dibawakan dalam festival tersebut. “Alhamdulillahsenang sekali karena dengan tampil di sana merupakan penampilan ke-71 negeri keliling dunia, memperkenalkan budaya dan seni Indonesia lewat musik etnik dan busana tradisional yang saya pakai di panggung,” ujar Dwiki Dharmawan menjawab pertanyaan SINDO saat jumpa pers jelang keberangkatan ke Afrika Selatan di Uly House, kawasan Haji Nawi, Kebayoran, Kamis (19/9) malam.

Musisi kelahiran Bandung, 19 Agustus 1966, ini patut berbangga lantaran akan tampil sepanggung dengan sederet musisi ternama. Bahkan, 350 artis dunia tampil bergantian di empat buah panggung di festival itu. Mereka, di antaranya Wynton Marsalis bersama Jazz at Lincoln Center Orchestra (USA),Moreira Chonguiça (Mozambik), Roberto Fonsesca (Kuba), Manu Katché (Prancis), Ken Peplowski (USA), Etuk Ubong, (Nigeria), Lady Smith Black Mambazo (Afrika Selatan), Salim Washington (Afrika Selatan, Sankofa (Ghana), Alexander Beets (Belanda), Zachusa (Afsel/Swiss/USA), Shannon Mowday (Norwegia), Mandla Mlangeni (Afrika Selatan), Sisonke Xonti (Afrika Selatan), dan lain-lain.

Dalam festival nanti, Dwiki Dharmawan akan tampil dengan formasi Dwiki Dharmawan (piano akustik dan synthesizer ), Cucu Kurnia (kendang Sunda), Rudi Zulkarnaen (akustik dan elektrik bass) dan Ita Purnamasari (vokal). Mereka akan berkolaborasi dengan bintang jazz Afsel, yaitu saxophonist Sisonke Xonti. Dwiki menjelaskan adanya kolaborasi musisi kedua negara ini sebagai penanda 25 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Afsel. “Kolaborasi ini menandai 25 tahun demokrasi berkembang di Afrika Selatan dan menandai hubungan diplomatik Indonesia Afrika Selatan, dimulai pada 1994. Makanya ada kolaborasi dengan musisi Afsel. Dan hanya ada tiga negara yang dapat kesempatan, Indonesia, Amerika Serikat, dan Norwegia. Kami akan kolaborasi dengan Wynton Marsalis dan Jazz at Lincoln Centre Orchestra,” cetusnya.

Musisi yang telah tampil di lebih 70 negara ini akan membawakan repertoire musik yang diambil dari album “So Far So Close”, “Pasar Klewer”, “Rumah Batu” dan album barunya yang akan segera dirilis, yakni “Hari Ketiga”. Pada setiap penampilannya, suami Ita Purnamasari ini selalu melibatkan instrumen tradisional Indonesia dan kali ini dia membawa serta kendang Sunda. Tak hanya dari sisi musik, Dwiki juga akan mengenakan kain etnik tradisional Tanah Air, salah satunya dari tanah Batak.

“Kami selalu terinspirasi oleh jazz sebagai simbol ‘kebebasan’, untuk menjadikan kreativitas dan mengeksplorasinya di luar tradisi jazz itu sendiri. Dan kami akan selalu membawa sentuhan nuansa tradisional dalam instrumen berupa kendang asal Sunda dan kain etnik asal Batak. Kenapa kain khas Batak, karena motifnya hampir sama dengan yang ada di Afrika Selatan, terutama daerah Pretoria,” katanya. Ayah kandung Muhammad Fernanda Dharmawan ini menambahkan, sudah saatnya Indonesia selalu hadir di berbagai ajang musik terbaik dunia sebagai bagian dari eksistensi dan pergaulan Indonesia di kancah global.

“Tampil pada perhelatan musik di mancanegara tidak hanya sebagai ekspresi diri melalui karya musik. Tapi lebih dari itu, ini merupakan ajang meraya kan cinta, perdamaian dan toleransi melalui balutan diplomasi budaya,” kata Dwiki Dharmawan yang pada 2018 lalu baru saja mendapat penghargaan “Gold Medal for Creativity” dari WIPO (World Intelectual Property Organization). Tak sekadar bermain musik, selama di Afsel, Dwiki dan timnya juga ada sederet agenda lain yang tak kalah serunya. Salah satunya akan menyambangi Pretoria pada Minggu (29/9), untuk tampil menghibur dan akan berwisata ke Safari Park Garden Afrika Selatan. “Ada banyak masyarakat penggemar musik jazz asal Indonesia keturunan Bugis yang tinggal Afrika Selatan, meminta tampil di Pretoria, persisnya di sebuah tempat Fourty Jazz Club. Sementara di Safari Park Afsel, menengok harimau dan singa,” candanya.

Dwiki bersama timnya juga akan melakukan riset kecil mengenai dampak perkembangan musik lintas batas Nusantara ke daratan Afrika, terutama di Tanjung Harapan. “Selain video stock shoot perjalanan, saya juga membuat riset kecil. Di mana, sampai sekarang ada banyak peninggalan terutama musik Nusantara di Madagaskar. Misalnya ada sasando besar dan tertarik meneliti dengan kajian musik lain di sana,” tutupnya.

Thomas manggalla