Edisi 22-09-2019
Inovasi ITS Bantu Petambak Udang Sukses Panen


Para petambak di Indonesia masih memiliki masalah dalam melakukan budi daya udang, khususnya pemberian pakan yang lebih dari setengah biaya total produksi.

Kondisi ini membuat mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menciptakan teknologi berbasis underwater image processing sebagai solusi dari persoalan tersebut. K omoditas udang telah lama menjadi salah satu andalan ekspor bagi Indonesia dari sektor kelautan maupun perikanan. Udang sangat diminati oleh masyarakat di berbagai negara, khususnya Amerika Serikat dan Eropa. Pada 2018, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mematok target ekspor udang hingga USD 5 miliar. Angka ini diharapkan mengalami peningkatan per tahunnya.

Untuk memenuhi permintaan tersebut, para petani tambak mela kukan budi daya udang untuk membantu kurangnya pemintaan udang hasil tangkapan laut. Namun, proses budi daya udang masih menjadi masalah bagi para petambak udang saat ini. Kurangnya efisiensi dalam pemeli hara - an dan perawatan udang mem buat hasil panen kurang maksimal. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa ITS merasa prihatin dan ingin membantu para petambak udang. Mereka adalah Chrisna Adhitya (teknik mesin industri), Thomas Teguh (teknik mesin industri), Ridwan Prasetyo (teknik mesin industri), Zahrah Ayu (teknik informatika), dan Rizky Najwa (teknik komputer).

“Ide ini berawal ketika teman saya berdiskusi dengan para petambak di daerah Keputih tentang budi daya udang, lalu para petambak sekitar menceritakan masalah yang dihadapi,” kata mahasiswa yang akrab dipanggil Chrisna. Maksud hati menolong teman, tutur Chrisna, dia berdiskusi dengan dosen pembimbing yang bernama Dr Ir Bambang Sampurno MT. Hasil diskusi itu membawanya untuk mencari literatur sebagai bahan penelitian. Pertama-tama, Chrisna dan keempat rekannya mencari solusi masalah yang dihadapi oleh petambak udang. Salah satunya dengan melihat jumlah pakan yang diberikan.

“Kami menemukan bahwa pemberian pakan yang berlebihan akan menyebabkan kelebihan senyawa organik di kolam yang mana malah bisa membunuh udang. Namun apabila kekurangan pakan akan menghambat pertumbuhan udang dan akan menyebabkan udang bersifat kanibalisme,” tambahnya. Pada 2014 lalu, Jawa Timur telah memasok udang Vannamei sebanyak 47.150 ton. Pada tahun yang sama pula, total nilai ekspor udang menca pai USD1,7 miliar. Artinya, sektor budi daya udang dapat menambah penghasilan para petani tambak. Udang Vannamei atau lebih dikenal dengan udang putih mulai dikenal pada 2011. Udang ini sangat digemari oleh konsumen karena memiliki serat dan daging yang banyak.

Alih-alih menjadi peluang usaha yang menjanjikan, kondisi ini malah membuat petambak udang merasa kesulitan karena biaya produksi yang tinggi. Biaya yang membengkak disebabkan ketidaktahuan dalam memberikan pakan atau obat. Para petambak banyak mengeluarkan biaya untuk kebutuhan pakan yang mencapai 60-70 dari total biaya produksi. Pemberian pakan yang hanya berdasarkan perkiraan tidak disesuaikan dengan jumlah bibit yang dimasukkan dalam tambak. Pemberian pakan yang banyak kepada udang bukanlah suatu hal yang positif. Ini dapat menjadi hal negatif karena berpotensi menyebabkan overfeeding atau pemberian pakan yang berlebih.

“Padahal sangat mungkin terjadi kematian selama proses budi daya, pemberian pakan harusnya 5% dari berat udang pada umur tertentu. Oleh karena itu, diperlukan perhitungan jumlah entitas udang yang valid guna pemberian pakan udang yang tepat,” ungkap ketua tim. Oleh karena itu, diperlukan suatu alat guna mengetahui jumlah pakan ideal agar budi daya udang dapat maksimal. Mahasiswa ITS menciptakan teknologi Smart Shrimp Counter (SSC), sebuah Autonomous Surface Vehicle (ASV) atau kapal tanpa awak penghitung entitas udang berbasis underwater image processing sebagai solusi persoalan tersebut. Teknologi ini memiliki mesin yang mampu mengidentifikasi jumlah dan umum udang.

“Kapal yang dilengkapi dengan kamera high resolution tahan air yang diletakkan di bawah kapal, menangkap gambar udang yang ada di dalam air tambak meski keruh, yang bergerak sesuai dengan lintasan kapal yang telah ditentukan sebelumnya,” tambahnya. Cara kerja kapal autonomus ini sama seperti kapal autonomus lainnya, yang berbeda adalah hasil tangkapan gambar di dalam air. Kapal dengan sistem navigasi Waypoint ini dilengkapi mikrokontroler dan kamera beresolusi tinggi yang tahan terhadap air pada bagian bawah kapal. Kapal ini akan bekerja dengan mengelilingi tambak untuk meng hi - tung entitas udang.

Ia meng gunakan sensor image enhancement yang dapat memperjelas gambar tangkapan. “Image recognition untuk me nge nali objek udang lalu dilakukan object counting untuk menghitung jumlah udang,” papar mahasiswa asal Tuban ini. Kemudian, tambah Chrisna, data yang telah diambil akan dikirim ke basis data untuk ditampilkan pada aplikasi yang telah disiapkan. Hasil ana lisis akan memberikan reko men dasi pakan yang sesuai dengan kebu tuhan udang. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2019, Chrisna dan tim bekerja sama dengan Tambak Safi’i sebagai mitra untuk me nye le saikan persoalan ini. Tambak ini terletak di daerah Keputih, Sukolilo, Surabaya. Hasil percobaan yang dilakukan berjalan dengan lancar.

Petambak di daerah Keputih merasa senang dengan hadirnya teknologi yang mampu membantu budi daya udang. “Jangkauan kolam adalah sesuai dengan umur baterai yang mana sekali pengecasan bisa mencapai dua kolam dengan luas 80x20 meter dan jang kau - an tangkap kamera 60 derajat dengan kedalaman 90 cm,” tambahnya. Kapal buatan mahasiswa ITS itu didesain dengan model dan fungsi yang sesuai untuk kebutuhan agar mudah di bawah ke mana pun. Kapal menggunakan dua propeler sebagai alat geraknya yang bisa berputar secara diferensial. “Kapal sendiri menggunakan desain catamaran hull agar saat berjalan kapal bisa stabil dan terbuat dari bahan fiber,” katanya Chrisna.

Chrisna berharap, dengan diciptakannya alat ini akan menghasilkan rekomendasi perlakuan kolam yang ideal untuk budi daya udang. Pemberian pakan juga lebih ideal dan efisiensi agar bisa panen secara maksimal.

Fandy