Edisi 02-10-2019
Korporasi Dibayangi Risiko Gagal Bayar


JAKARTA – Perusahaanperusahaan di Tanah Air diminta agar dapat meng ambil keputusan tepat di tengah ketidakpastian global.

Hal tersebut disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang menanggapi laporan lembaga pemeringkat Moody’s terkait adanya potensi risiko gagal bayar perusahaan-perusahaan di Indonesia. Menurut Sri Mulyani, laporan Moody’s menjadi peringatan bagi pelaku usaha.

Adanya risiko gagal bayar dipengaruhi menurunnya kinerja perusahaan dalam mendulang pendapatan di tengah ketidakpastian global. “Saya rasa, apa pun yang disampaikan lembaga-lem baga pemeringkat, adalah peringatan yang baik untuk menjadi bahan pertimbangan bagi para pengambil keputusan di tingkat korporasi.

Agar lebih waspada terhadap lingkungan global sekarang ini yang berubah-ubah,” terangSriMul yani di Gedung Kemenkeu, Jakarta, kemarin. Menurut dia, dalam menjalankan bisnisnya, pelaku usaha biasanya memiliki asum si ekonomi tertentu, sehingga begitu kondisi ekono mi berubah maka seharusnya pelaku usaha segera meng ubah strateginya.

“Jadi, laporan seperti itu (Moody’s), perusahaan harus betul-betul melihat dinamika lingkungan di mana mereka beroperasi,” katanya. Sri Mulyani menambah kan, pihaknya juga akan me mantau utang badan usaha milik negara (BUMN) terkait laporan ter sebut.

Menurut nya, pemerin tah akan menjalankan kebijakan fiskal untuk men dukung BUMNdalammen jalankanmisi pem bangunan. Selainitupelaku usaha lain juga harus meningkatkan kehati-hatian, baik di tingkat global maupun regional agar tidak salah meng ambil lang kah bisnis.

Misalnya bagaimana cara stra tegi bisnis dapat menghasilkan pendapatan seperti yang diharapkan, meskipun di tengah ketidak-pastian ekonomi ini. Menurutnya, selain memikirkan bagaimana menghasilkan pendapatan, pelaku usaha juga harus meningkatkan efisiensi, se hingga meski tetap bisa meng hasilkan pen - dapatan, pelaku usaha juga bisa mengantisipasi jika terjadi kondisi yang tidak diinginkan.

“Dalam lingkungan eko - nomi yang diperkirakan mele - mah, mereka harus mulai me - lihat dari sisi efisiensi di da lam, sehingga kemampuan mereka untuk tetap bisa meng-generate revenue danbiayamakinefisien sehingga mereka bisa meng - hadapi kemungkinan pele - mah an tersebut,” tandasnya.

Moody’s Investor Service (Moody’s) sebelumnya menyatakan bahwa perbankan di kawasan Asia-Pasifik sedang dalam kondisi rentan. Hal ini karena turunnya kemampuan perusahaan dalam membayar utang-utangnya.

Dalam riset Moody’s berjudul “Asia Pasific-Banks Face Growing Risk from Leveraged Corporates as Macro eco nomic Conditions Weaken”, potensi gagal bayar tersebut karena pertumbuhan ekonomi lebih lambat dan meningkatnya tensi perdagangan serta ketegangan geo politik yang bisa melemahkan kemampuan pelayanan utang.

Pasalnya, sentimen tersebut jugaber dampakpadaIndonesia. “Tes stres kami, yang mengasumsikan penurunan 25% dalam EBITDA, menunjukkan bank-bank di India dan Indonesia paling rentan terhadap penurunan kapasitas pembayaran utang perusahaan, diikuti oleh bank-bank di Singapura, Malaysia, danChina,” ujar Asisten Wakil Presiden dan Analis Moody’s Rebaca Tan dalam surveinya.

Menurutdia, tingkat default perusahaan di Asia-Pasifik ma - sih rendah dibantu dengan suku bunga rendah serta kon - disi pendanaan yang meng - untungkan. Namun, kete gang - an perdagangan dan geopolitik yang meningkat dapat mem - bebani ekonomi global di te - ngah pertumbuhan melambat.

Dari laporan tersebut, total utang perusahaan di 13 negara hanya tumbuh 1% dari tahun ke tahun pada 2018, karena laju tersebut paling lambat sejak krisis keuangan global. Namun, leverage per - usahaan secara keseluruhan tetap relatif tinggi terhadap produk domestik bruto di banyak ekonomi kawasan.

Selain itu, outstanding debt sangat terkonsentrasi di antara perusahaan-perusahaan yang memiliki utang lebih dari empat kali EBITDA se hingga mening - kat kanrisikogagalbayarkarena kondisi operasional melemah. Ditengahrisikotersebut, masih ada penopang yang kuat oleh sebagian besar bank di Asia- Pasifik, yaitu dalam bentuk cadangan pinjaman dan mo dal.

Hal ini disinyalir bisa me nahan penurunan tajam dalam kua - litas aset. Sementara itu, pengamat ekonomi Institute for Develop - ment of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira me - ngatakan, kondisi risiko gagal bayar perusahaan-perusahaan juga dipengaruhi oleh fluktuasi kurs rupiah.

Menurutnya, semakin terdepresiasi, khususnya korporasi yang utangnya dominan utang luar negeri (ULN), akan menghadapi kesulitan bayar. “Kondisi makin sulit ketika tidak semua ULN swasta di-hedging,” tambahnya.

rina anggraeni/ hafid fuad/okezone