Edisi 02-10-2019
Penerapan Aplikasi Parkir On Street Dikaji


JAKARTA - Pemprov DKI Jakarta mengkaji penerapan aplikasi pada parkir on street atau parkir di badan jalan.

Penggunaan aplikasi sejak satu tahun lalu di beberapa ruas jalan ternyata belum optimal. Juru bicara Badan Layanan Umum (BLU) Perparkiran Dinas Perhubungan DKI Jakarta Ivan Valentino mengatakan, par kir on street di Jakarta memang diperbolehkan dan di kendalikan oleh BLU Per par kir an.

Sekitar 400 titik parkir on street ada di lima wilayah Ja kar ta. Apli - kasi parkir kini tengah dievaluasi teknologinya. Peng gu naan sis - tem berbasis tek no logi atau tem - pat parkir elek tro nik (TPE) ter se - but belum ber kembang pesat. ”Masih dikaji penggunaan tek - no logi yang tepat.

Mesin par kir dan aplikasi itu kan ke marin diuji coba. Banyak ke ku rangan. Nah, kita tidak mau pe ne ra pan nya ada kekurangan,” ujar Ivan kemarin. Menurut dia, pemanfaatan aplikasi untuk mengelola parkir on street terus dikedepankan.

Dengan menggunakan aplikasi, tingkat kebocoran pendapatan parkir bisa ditekan hingga 10%. Bahkan, pengawasan juru par - kir nakal menjadi lebih mudah. Misalnya dalam penggunaan sis tem berbasis aplikasi smart - phone; melalui aplikasi itu dapat dipantau ada atau tidaknya juru parkir yang bekerja dan nakal mengantongi retribusinya.

”Pemilik kendaraan yang terparkir akan dihampiri juru parkir kemudian memfoto pelat nomor polisinya. Kemudian mobile printer yang disediakan di lokasi akan mengeluarkan setruk pembayaran,” kata Ivan. Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Golkar Dimas Soesatyo mendesak Pemprov DKI memberlakukan sistem teknologi berbasis aplikasi pada parkir on street .

Dengan aplikasi, semua kekurangan yang selama ini terjadi pada mesin parkir dapat teratasi. Terpenting sosialisasi harus digencarkan agar masyarakat memahami penggunaan aplikasi parkir. ”Kalau mesin itu kan harus tapping kartu pembayaran elektronik.

Kalau dia tidak punya kartu bagaimana atau habis uang nya bagaimana tapping - nya? Kalau aplikasi kan bisa langsung dari payment baik Go- Pay atau Ovo, dan sebagainya. Kalau habis bisa ditransfer dari M-Banking,” ujarnya.

Pengamat transportasi Universitas Tarumanagara Leksmono Suryo Putranto menilai seluruh parkir di badan jalan yang ditargetkan Pemprov DKI terpasang mesin parkir pada 2017 ternyata gagal terwujud.

Apabila kembali mencoba peng - gunaan teknologi atau aplikasi baru, parkir yang merupakan instrumen pengendalian ken - da raan akan memakan waktu lebih lama penerapannya. Se - mentara itu, moda transportasi umum tengah digalakkan dan ditargetkan rampung pada 2019.

Menurut dia, pemasangan me sin parkir atau TPE saat ini hanya berfungsi me ne kan kebocoran retribusi. Itu pun mas ih banyak pungutan liar ka rena juru parkir nakal, padahal TPE itu tujuan utama nya mengendalikan kepadatan ken da raan. Artinya, bila mesin parkir tidak terpasang di seluruh parkir on street maka TPE tidak mampu mengen dalikan kepadatan ken da raan.

Berdasarkan pantauan di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, jalanan dijadikan parkir liar saat malam hari. Rambu/ - marka larangan parkir diabaikan oleh pengendara. Mereka tetap parkir di badan jalan setelah mendapatkan jaminan dari juru parkir liar. Di Kota Tua, Jakarta Barat, par kir liar memenuhi beberapa tro toar.

Baik di Kebon Sirih maupun Kota Tua, tarif parkir liar yang dipungut cukup mahal dan jauh dari harga normal. Untuk kendaraan roda dua, pemilik parkir menarik Rp5.000 dan kendaraan roda empat di ke nakan Rp10.000.

bima setiyadi