Edisi 02-10-2019
Bekasi Kota Metropolitan Setengah Hati


Pertumbuhan penduduk Kota Bekasi begitu pesat. Saat ini jumlah penduduknya mencapai 2,8 juta jiwa dengan luas wilayah mencapai 210 kilometer persegi (km2).

Artinya, setiap kilometer dihuni sekitar 16.500 penduduk. Jumlah tersebut diprediksi akan terus meningkat hingga 3,7 juta jiwa pada 2023. Dengan begitu, wilayah Bekasi akan sangat sempit dengan pertumbuhan yang begitu cepat. epala Dinas Tata Ruang (Distaru) Kota Bekasi Junaedi mengatakan, pembangunan infrastruktur dan perubahan tata ruang diduga memengaruhi terjadinya peningkatan jumlah penduduk yang begitu pesat.

Karena itu, dia memprediksi empat tahun ke depan jumlah penduduk Kota Bekasi bisa mencapai 3,7 juta jiwa. ”Jadi, peningkatan jumlah penduduk Kota Bekasi didominasi arus urbanisasi karena perkembangan proyek strategis nasional,” ujarnya.

Kota Bekasi Rahmat Effendi menjelaskan, faktor bertambahnya jumlah penduduk didominasi arus urbanisasi, sedangkan angka kelahiran hanya berkisar 2%. Berdekatan dengan Ibu Kota membuat Kota Bekasi menjadi tujuan warga urban saat ini.

Selain itu, kata dia, Kota Bekasi juga menjadi satu di antara wilayah yang besar dengan percepatan ekonomi, pembangunan, maupun jumlah penduduknya yang terus meningkat. “Atas kondisi ini, tentu menuntut pemerintah agar mampu menyediakan sarana dan prasarana untuk kehidupan masyarakat yang layak,” ucapnya.

Menurut Rahmat, Pemkot Bekasi akan terus melakukan penataan permukiman, utilitas, serta pembangunan akses jalan agar penyebaran penduduk jadi merata. ”Secara wilayah dengan jumlah penduduk sudah padat dan sempit, maka bagaimana caranya dengan wilayah yang ada kita tata dengan baik,” katanya.

Secara administratif, Kota Bekasi dibagi menjadi 12 kecamatan antara lain Medansatria, Bekasi Utara, Bekasi Barat, Bekasi Selatan, Bekasi Timur, Rawalumbu, Pondokgede, Jatiasih, Pondokmelati, Mustikajaya, Bantargebang, dan Jatisampurna. Dari 12 kecamatan, terbagi menjadi 56 kelurahan.

Kecamatan Mustikajaya mempunyai wilayah terluas yaitu 24,7 km2. Sedangkan Bekasi Timur merupakan wilayah terkecil yaitu 13,5 km2. Jumlah penduduk yang memiliki kartu tanda penduduk (KTP) Kota Bekasi saat ini mencapai 2,7 juta jiwa dengan luas wilayah 210,49 km2.

Jadi, Kota Bekasi hanya terpaut sedikit dengan Kota Surabaya dengan penduduk mencapai 2,8 juta jiwa, tetapi luas wilayahnya mencapai 350,54 km2. Lain halnya dengan Kabupaten Bekasi, jumlah penduduk mencapai 3,6 juta jiwa dengan luas wilayah mencapai 1.484,37 km2.

Dengan jumlah penduduk lumayan terbanyak di Jawa Barat. Pengamat tata kota Universitas Trisakti Yayat Supriatna mengatakan, idealnya tata ruang wilayah Bekasi mempertimbangkan berbagai aspek di antaranya struktur ruang dan pola ruang. Struktur ruang berkaitan dengan pusat-pusat kegiatan dan pola ruang berkaitan dengan jaringan pelayanan.

Misalnya, penyediaan jalan, jaringan air, jaringan listrik, pengelolaan sampah serta sanitasi. ”Sebuah kota harus ditetapkan, pusat kegiatan utama di mana. Seperti Kota Bekasi, pusat kegiatan utama ada di Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan.

Pusat kegiatan utama ini tumbuh berkembang jika didukung jaringan pelayanan,” katanya. Menurut dia, Bekasi saat ini sudah tumbuh menjelma menjadi kota metropolitan. Yayat mencontohkan di wilayah Tambun, Kabupaten Bekasi, kegiatan utama tidak berkembang karena tidak didukung penyediaan jaringan seperti infrastruktur jalan, transportasi, pengelolaan sampah, dan sebagainya.

“Kota bisa berkembang ketika pusat kegiatannya didukung jaringan pelayanannya. Bekasi itu merupakan kota metropolitan setengah hati,” jelasnya. Dia membandingkan dengan Jakarta yang disebut sebagai kota metropolitan mandiri dengan mengelola pembiayaan pembangunan dalam skala metropolitan.

“Kota Bekasi merupakan kota metropolitan, tapi dalam konteks pembiayaan pembangunan. Kota ini belum mampu membiayai pembangunan skala metropolitan karena ada keterbatasan. Kota Bekasi merupakan daerah otonom di bawah Provinsi Jawa Barat. Banyak kewenangankewenangan Kota Bekasi yang diambil alih oleh provinsi,” tuturnya.

Dia mengatakan, Kota Bekasi memiliki sumber pendapatan yang besar dari pajak kendaraan bermotor dan banyak menyumbang ke Provinsi Jawa Barat. Namun, sumbangan dari Jawa Barat kepada Bekasi dinilai tidak besar. Akibatnya, Bekasi kesulitan membangun jaringan jalan, flyover, dan infrastruktur jalan tidak bertambah.

Hal itu terjadi lantaran anggarannya terbatas. Apalagi, untuk menambah jaringan perpipaan air minum, persampahan, dan pelayanan kesehatan. Keterbatasan kemampuan anggaran daerah membuat pembangunan satu wilayah tidak maksimal. Berbeda dengan DKI Jakarta yang memiliki kemampuan anggaran lebih besar.

”Bekasi hanya sekitar Rp6,6 triliun per tahun, penduduknya 2,7 juta jiwa lebih. Cukupkah keuangan daerah itu? Hanya digunakan untuk pembangunan rutin, anggaran sudah habis. Apalagi, sekarang masih defisit keuangan di Kota Bekasi.

Jadi, kota akan dikembangkan pola dan struktur ruangnya, harus didukung dengan pembiayaan,” imbuhnya. Yayat menjelaskan, ketersediaan lahan di Kota Bekasi saat ini sangat terbatas, tetapi jumlah penduduknya sangat padat sehingga diperlukan upaya pembangunan rumah vertikal atau rumah susun di jalur light rail transit (LRT), double-double track (DDT), dan dengan harga rumah yang terjangkau.

abdullah m surjaya