Edisi 02-10-2019
Gunung Es Seberat 315 Miliar Ton Lepas dari Antartika


ANTARTIKA – Beting Es Amery di Antartika baru saja menghasilkan gunung es terbesar dalam lebih 50 tahun.

Bongkahan es seluas 1.636 km persegi terlepas dari bagian uta - manya. Gunung es seluas itu kini disebut D28 dan terus dipantau serta dilacak agar ti - dak menjadi ancaman bagi ja lur pelayaran kapal. Sebe lum nya, Amery pernah melepas gu nung es terbesarnya pada 1960-an dengan luas 9.000 km persegi.

Amery merupakan beting es terbesar ketiga di Antartika dan menjadi saluran drainase pen - ting untuk bagian timur benua itu. Beting es me ru pa kan per - pan jangan dari ham par an es di darat ke laut. Beting es itu me - miliki aliran gletser yang me nu - ju laut.

Lepasnya bagian es itu merupakan cara aliran es men - jaga ke seim bang an, menyeim - bang kan input salju di bagian hulu. Jadi, para peneliti tahu ke - jadian ini akan terjadi. Bagian yang lepas itu sebelumnya beru - pa retakan dan diberi sebutan “Gigi Longgar”.

“Ini geraham jika diban ding - kan dengan gigi bayi,” ung kap Profesor Helen Fricker dari Scripps Institution of Ocea no - graphy pada BBC . Profesor Fricker telah mem - prediksi pada 2002 bah wa Gigi Longgar itu akan lepas pada periode antara 2010 dan 2015. “Saya senang melihat ke jadian kelahiran ini setelah be berapa tahun.

Kami tahu ini akan ter - jadi tapi ini tidak se tepat yang kami perkirakan,” kata dia. Para pakar menekankan bah wa tak ada kaitan kejadian ini dengan perubahan iklim. Data satelit sejak 1990-an me - nunjukkan Amery kurang le bih seimbang dengan seki tar nya, meski mengalami pen cair an es yang banyak pada musim panas.

“Meski ada banyak hal yang harus dikhawatirkan di Antar - tika, tidak perlu khawatir un tuk beting es ini,” kata Profesor Fricker. Divisi Antartika Australia akan terus mengamati Amery untuk melihat perkembangan setelah kejadian itu.

Para pakar juga telah memasang pera lat an di wilayah tersebut. Hi lang nya bagian es sebesar itu akan mengubah kondisi geometri di beting es tersebut. Ini bisa me me - ngaruhi perilaku retakan es dan bahkan stabilitas Gigi Longgar. D28 diperkirakan memiliki tebal 210 meter dan berisi seki - tar 315 ton es.

Nama gunung es itu berasal dari sistem klasifikasi dibuat oleh Pusat Es Na - sional Amerika Serikat (USNIC) yang membagi Antar tika dalam beberapa kuadran. Kuadran D mencakup garis bujur 90 derajat Timur ke nol derajat, Prime Meridian.

D28 masih lebih kecil di - bandingkan gunung es A68 yang pecah dari Beting Es Lar - sen C pada 2017. Saat ini A68 memiliki luas tiga kali lipat di - bandingkan D28. Arus laut dan angin akan membawa D28 bergerak ke arah barat. Diper ki ra - kan membutuhkan waktu beberapa tahun hingga gunung es itu terpecah lagi dan mencair seluruhnya.

Sementara itu, pada Agus tus lalu, Islandia memasang pla kat di Betting Es Okjokull untuk mengenang gletser per tama yang mencair akibat pe ru bahan iklim. Negara itu me mi liki ra - tus an gletser yang ma sih ber ta - han namun terancam mencair akibat pemanasan glo bal.

Para pakar menyatakan ber ku rang - nya gletser itu se bagai salah satu tanda pe ringatan bahwa iklim di bumi menuju titik kritis yang ber bahaya. Upacara untuk memasang plakat pada Agustus itu diha di ri para pakar dan warga lokal di gle - tser yang berada di bagian tengahbarat Islandia.

Gletser tersebut sejak 2014 dinyatakan tak bisa lagi memenuhi kriteria untuk disebut sebagai gletser setelah meleleh sepanjang abad 20. “Ok (Okjokull) adalah gletser Islandia pertama yang kehilangan statusnya sebagai gletser. Dalam 200 tahun mendatang semua gletser kita diperkirakan mengalami kondisi yang sama,” ungkap tulisan dalam plakat yang disusun penulis asal Islandia Andri Snaer Magnason.

syarifudin