Edisi 02-10-2019
Jumlah Wisman Mulai Merangkak Naik


JAKARTA–Badan Pusat Statistik (BPS) merilis jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia Agustus 2019 mencapai 1,56 juta kunjungan.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia Agustus 2019 mengalami kenaikan 2,94% dibanding jumlah kun jung an pada Agustus 2018. Sementara jika dibandingkan de ngan Juli 2019, jumlah kun jung an wisman pada Agustus 2019 mengalami ke - naikan se be sar 4,83%.

“Pada Juni, Juli, Agustus, me rupakan libur musim panas untuk sekolah dan kuliah di Ame rika Serikat (AS) dan Eropa. Jadi, wisman dari AS juga mengalami peningkatan,” ujarnya di Jakarta kemarin. Suhariyanto mengungkapkan, dari 1,56 juta kunjungan, wisman yang datang dari wilayah Amerika memiliki persentase kenaikan paling tinggi dibanding Agustus 2018, yaitu sebesar 28,18%.

Sementara persentase penurunan hanya terjadi pada wisman yang datang dari wilayah Asia selain ASEAN, yaitu sebesar 14,53%. Secara kumulatif (Januari- Agustus 2019), jumlah kunjung an wisman ke Indonesia men capai 10,87 juta kunjungan atau naik 2,67% dibandingkan dengan jumlah kunjungan wisman pada periode yang sama tahun 2018 yang berjumlah 10,58 juta kunjungan.

Jumlah kunjungan wisman ini terdiri atas wisman yang berkunjung melalui pintu masuk udara sebanyak 6,49 juta kunjungan, pintu masuk laut sebanyak 2,80 juta kunjungan, dan pintu masuk darat sebanyak 1,57 juta kunjungan.

Suhariyanto melanjutkan, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia yang datang melalui pintu masuk udara pada Agustus 2019 mengalami penu run an sebesar 1,39% dibanding jumlah kunjungan wisman pa da bulan yang sama tahun se belumnya.

Penurunan kunjungan wisman tersebut terjadi di tujuh pintu masuk udara dengan persentase penurunan tertinggi di Bandara Sultan Badaruddin II, Sumatera Selatan, yang mencapai 27,84%; diikuti Bandara Ahmad Yani, Jawa Tengah, turun 22,23%; dan Bandara Soekar no- Hatta, Banten, turun 18,05%.

“Jadi kita masih punya PR yang besar untuk bagaimana me ningkatkan wisman. Se hingga diharapkan bisa menghasilkan devisa yang dapat di nik mati seluruh bangsa,” jelas nya.

Menurut Suhariyanto, kunjungan wisman yang datang ke Indonesia selama 2019 paling banyak berasal dari wisman berkebangsaan Malaysia sebanyak 2,11 juta kunjungan (19,38%), China 1,44 juta kunjungan (13,24%), Singapura 1,24 juta kunjungan (11,45%), Australia 876.800 kunjungan (8,07%), serta Timor Leste 826.800 kunjungan (7,61%).

Deflasi September 0,27%

Di sisi lain, BPS juga mengumumkan pada September 2019 mengalami deflasi sebesar 0,27%. Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya indeks kelompok bahan ma kanan sebesar 1,97%.

Adapun tingkat inflasi tahun kalender (Januari-September) 2019 sebesar 2,20% dan ting kat inflasi tahun ke tahun (September 2019 terhadap September 2018) sebesar 3,39%. Komponen inti pada September 2019 mengalami inflasi sebesar 0,29%.

Tingkat inflasi kom ponen inti tahun kalender (Januari-September) 2019 sebesar 2,62% dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (September 2019 terhadap September 2018) sebesar 3,32%. “Kami melihat inflasi tahun kalender dan inflasi tahunannya masih di bawah target.

Jadi, bisa kami simpulkan bahwa inflasi sampai September 2019 ma sih terkendali,” papar Suhari yanto. Meski begitu, lanjut Suhari - yanto, pemerintah perlu meng antisipasi kenaikan harga yang terjadi pada Desember. “Bia sanya Desember mengalami kenaikan karena permintaan men jelang liburan sekolah, Natal, dan tahun baru,” imbuhnya.

Dari 82 kota IHK, 70 kota mengalami deflasi dan 12 kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Sibolga sebesar 1,94% dan terendah terjadi di Surabaya sebesar 0,02%. Sementara itu, inflasi tertinggi ter jadi di Meulaboh sebesar 0,91% dan terendah terjadi di Watampone dan Palopo masing-masing sebesar 0,01%.

Suhariyanto memaparkan, kelompok bahan makanan mengalami deflasi sebesar 1,97% de ngan andil deflasi se besar 0,44%. Komoditas yang dominan memberikan andil de flasi, yaitu cabai merah 0,19%, bawang merah 0,07%, daging ayam ras 0,05%, tomat sayur dan cabai rawit masing-masing 0,03%, telur ayam ras sebesar 0,02%.

Kemudian ikan segar, mentimun, pir, tomat buah, dan bawang putih, masing-masing 0,01%. Sementara komoditas yang dominan memberikan an dil inflasi, yaitu beras, bayam, dan sawi hijau, masing-masing 0,01%. “Harga cabai merah turun tajam.

Di sisi lain, masih ada kenaikan beras sumbangannya 0,01%. Tidak perlu dikhawatirkan karena cadangannya cukup,” paparnya. Suhariyanto melanjutkan, ke lompok yang mengalami inflasi terbesar adalah sandang sebesar 0,72% dengan andil in flasi 0,05%. Komoditas yang memberi kan andil inflasi ada lah emas perhiasan sebesar 0,04%.

“Kita sudah menduga komodi tas yang dominan naik adalah emas dan perhiasan. Kenaikan ini terjadi di 78 kota IHK, di mana kenaikan tertinggi di Cirebon dan Surakarta,” tuturnya. Terpisah, ekonom Indef Bhima Yudisthira mengatakan, deflasi terjadi karena pedagang tidak berani menaikkan harga barang karena khawatir pembeli berkurang.

Hal ini perlu diwas padai karena bisa membuat pertumbuhan ekonomi ikut tertekan. “Perlu diwaspadai jika in flasi rendah bahkan deflasi berlan jut. Konsumsi rumah tangga ta hun ini diperkirakan berada di ba wah 5%.

Pertumbuhan eko no mi akan terdampak dan jauh me leset dari asumsi 5,3%,” ujar Bhi ma. Menurut dia, dorongan inflasi yang perlu dicermati adalah dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif listrik. Terlebih saat ini kuota solar bersubsidi pun sudah mulai dibatasi.

oktiani endarwati/ rina anggraeni