Edisi 02-10-2019
Kuota Solar Bersubsidi Masih Aman


JAKARTA– Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan kuota bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi masih aman hingga akhir 2019, walaupun berpotensi melebihi kuota yang ditetapkan tahun ini.

Berdasarkan laporan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) kuota BBM solar berpotensi melebihi kuota sebesar 1,4 juta kiloliter (kl) dari ketetapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 sebesar 14,5 juta kl.

“Kita berpikir optimistis, kita jalankan dulu. Kita lihat ke depan karena belum habis,” ujar Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jakarta, kemarin.

Menurut dia, kuota BBM solar bersubsidi masih cukup memenuhi kebutuhan masyarakat. Meski demikian, pemerintah akan tetap memantau perjalanan kuota supaya tetap aman. Sementara itu, Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Fanshurullan Asa sebelumnya mengatakan, kuota BBM bersubsidi jenis solar tahun ini berpotensi habis pada November 2019.

Untuk menutupi kekurangan tersebut, maka paling tidak harus ditambah sekitar 1,4 juta kl. “Kami sudah memprediksi akan terjadi over kuota BBM bersubsidi dari yang sudah ditetapkan. Dengan begitu, kami sepakat untuk melakukan pengendalian,” ujar dia.

Berdasarkan hasil verifikasi BPH Migas realisasi volume BBM bersubsidi jenis solar sampai Juli 2019 sebesar 9,04 juta kiloliter dan diproyeksikan sampai akhir 2019 sebesar 15,31–15,94 juta kl. Artinya, ada potensi kuota berlebih sebesar 0,8–1,4 juta kl atau berpotensi 5,5–9,6%.

Pihaknya menyebut, banyaknya penyelewengan solar bersubsidi dilakukan oleh industri tambang dan perkebunan. “Diduga wilayah penyimpangan BBM subsidi banyak terjadi di daerah tambang dan perkebunan.

Selanjutnya, kami bersama pihak berwajib akan berkoordinasi melakukan peningkatan pengawasan, pengendalian, sosialisasi, hingga penindakan hukum,” tambahnya. Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Mas’ud Khamid mengatakan, terdapat sejumlah daerah yang diduga banyak menyelewengkan BBM bersubsidi jenis solar.

Adapun wilayah penyelewengan tertinggi terjadi di daerah yang industri tambang dan perkebunan sedang menggeliat. “Kami mengindikasi ada sejumlah provinsi yang over kuota (utamanya) di daerah yang industri tambangnya mulai bergeliat. Di antaranya Riau, Bangka Belitung, Kalimantan Timur, dan Sulawesi,” tandas dia.

Proyek Langit Biru Cilacap Mulai Terintegrasi

PT Pertamina (Persero) secara resmi melakukan integrasi pengoperasian Kilang Cilacap eksisting, setelah Proyek Langit Biru (Proyek Langit Biru Cilacap/ PLBC) selesai. Program PLBC tersebut akan memproduksi lebih banyak bahan bakar minyak gasolin berkualitas standar EURO 4.

“Dengan beroperasinya PLBC, kemampuan produksi produk pertamax RON 92 Kilang Cilacap meningkat signifikan menjadi 1,6 juta barel per bulan dari sebelumnya 1 juta barel,” ujar Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia (MP2) Pertamina Ignatius Tallulembang.

Pengintegrasian PLBC dengan Kilang Cilacap eksisting ditandai dengan penandatanganan berita acara PLBC dan Direktorat MP2 Pertamina di bawah pengelolaan Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap.

Beroperasinya PLBC, klaimnya, akan mengurangi impor High Octane Mogas Component (HOMC) sebagai komponen blending produk gasolin secara signifikan sehingga berdampak positif pada upaya pemerintah memperkuat cadangan devisa negara.

Proyek PLBC menelan investasi USD392 juta dengan lingkup pekerjaan meliputi Revamping unit Platforming I sehingga kapasitas produksi meningkat 30% menjadi 18.6 million barel steam per day (MBSD) serta pembangunan unit baru LNHT-Isomerization dengan kapasitas desain 21.5 MBSD serta pembangunan beberapa unit Utilities untuk mendukung unit proses PLBC.

Dia mengatakan, PLBC merupakan lanjutan dari pembangunan Residual Fluid Catalytic Cracker (RFCC) Cilacap, di mana selama 4 tahun pengerjaan proyek, pencapaian jam kerja aman tanpa lost time injury (LTI) adalah lebih dari 17 juta jam kerja.

Saat konstruksi, PLBC menyerap sekitar 2.500 tenaga pekerja, di mana lebih dari 70% di antaranya adalah pekerja lokal Cilacap. Direktur Pengolahan Pertamina Budi Santoso Syarif mengatakan, Kilang Cilacap merupakan salah satu kilang besar Pertamina yang berperan dalam menjaga swasembada dan kemandirian energi nasional.

“Dengan beroperasinya PLBC yang terintegrasi dengan Kilang Cilacap yang mempunyai kapasitas olah crude sekitar 33,4% dari total kapasitas kilang nasional, akan meningkatkan profit kilang Cilacap,” kata dia.

nanang wijayanto