Edisi 02-10-2019
Lupakan Masa Lalu


LIVERPOOL – Keberhasilan merebut trofi Liga Champions pada musim lalu membuat Liverpool berani mengusung target tinggi.

The Reds bertekad menjaga hegemoni positif yang diraih melalui perjuangan keras.Liverpool sempat bersabarselama hampir 14 tahun sebelum meraih lagi kejayaan di Eropa. Hal mengecewakan berulang kali dialami, termasuk ketika tumbang dari Real Madrid di final edisi 2017/2018.

Perjuangan Si Merahbaru membuahkan hasil pada musim lalu. Dianggap beruntung bisa melaju ke babak gugur, Liverpool mengakhiri perjalanannya dengan mengalahkan Tottenham Hotspur 2-0 pada partai puncak di Wanda Metropolitano.

Alhasil, klub asal Merseyside itu kembali merajai Benua Biru setelah 2004/2005. Hal itu membuat skuad Liverpool ingin mencatat sukses lebih banyak lagi. Selain bertekad menyudahi kutukan selalu gagal menjuarai Liga Primer yang sudah berlangsung setelah 1989/1990, tim asuhan Juergen Klopp itu ingin menjaga singgasana Liga Champions.

Liverpool ingin mengulang torehan 43 tahun lalu yang mampu memenangkan Liga Champions dua kali berturut-turut pada 1976/1977 dan 1977/1978. Agar misi itu terwujud, mereka akan berusaha sekuat tenaga agar bisa melewati penyisihan Grup E.

“Apa yang terjadi pada musim lalu menjadi kenangan yang luar biasa. Tapi, kami harus berusaha menjadikannya lebih baik lagi. Kami harus bisa mencapai final lagi. Kami tidak boleh melihat ke belakang, tapi harus memandang ke depan,” ujar Georginio Wijnaldum, dilansir Skysport.

Gelandang asal Belanda itu menyebut Liverpool harus memanfaatkan momentum yang ada untuk meraih poin penuh saat menjamu Red Bull Salzburg di Anfield dini hari nanti. Pasalnya, wakil Inggris itu butuh kemenangan setelah dihajar Napoli 0-2 pada laga pembuka.

“Sukses memenangkan Liga Champions memberi kami keper cayaan diri. Tapi, tentu saja ini musim Liga Champions yang berbeda. Laga yang berbeda, situasi berbeda, dan lawan berbeda. Yang pasti, kami harus memastikan diri siap setiap saat,” ujar Wijnaldum.

Jika mengacu kekuatan, Liverpool seharusnya berada di atas angin. Pasalnya, mereka bisa meraih tujuh kemenangan dan hanya menelan satu kekalahan dari delapan laga pertama di semua kompetisi. Apalagi, dua sukses di antaranya terjadi saat menjadi tuan rumah.

Setelah dipermalukan Napoli, Liverpool bangkit dengan menggasak Chelsea (2-1) dan Sheffield United (1-0) di Liga Primer serta Milton Keynes Dons (2-0) di Piala Liga. Bila dikalkulasi, rata-rata kemenangan mereka menembus 72,7%.

Jika digabung dengan Piala Super Eropa dan Community Shield, Liverpool mampu mencetak 23 gol dan hanya kebobolan 10 kali sepanjang musim ini. Sadio Mane menjadi pemain tersubur lantaran menyumbang enam gol.

“Akan sangat menyenangkan jika kami bisa memenangkan laga itu (melawan Salzburg). Tapi, kami cukup tahu seperti apa pertandingan Liga Champions jika berlangsung di Anfield. Karena itu, kami sudah tidak sabar untuk menyambutnya,” tandas pemain berusia 28 tahun itu.

Seandainya nanti mampu menjinakkan Salzburg, itu dapat menjadi modal penting bagi Liverpool untuk menghadapi periode sibuk melawan tim kuat. Setelah bentrok dengan jagoan Austria itu, mereka masih akan bersua Leicester City, Manchester United, Genk, Tottenham, dan Arsenal selama Oktober.

Tapi, bukan berarti Salzburg bisa diremehkan. Karena, Liverpool tidak punya informasi mengenai Die Mozartstadte lantaran belum pernah bertemu. Apalagi, armada Jesse Marsch punya torehan cukup bagus sepanjang musim ini.

Salzburg belum terkalahkan selama sembilan laga resmi terbarunya musim ini dengan rincian delapan menang dan satu imbang. Perlu diingat pula Andreas Ulmer dkk pernah mencukur Genk 6-2 pada pertandingan pertama penyisihan Grup E Liga Champions.

m mirza